Kamis, 27 Desember 2012

iseng2 posting sebagian cerita buat ngisi2 aja, hihi... belom punnya judul lagi, haha


Canda tawa anak-anak di sekitar terdengar riang, namun terdengar menggema dan melambat di telingaku, gerakan mereka, seolah-olah aku menonton film dengan gerakan slow motion. Tapi mendadak inderaku kembali normal begitu aku mendengar dering bel.

“Baik, anak-anak. Ingat ya, kerjakan PRnya di rumah kalian...” Seorang perempuan berjilbab putih tersenyum pada kami sambil merapikan buku-bukunya, kemudian diakhiri dengan salam.

Perlahan semua anak-anak mulai keluar dari kelas, mereka menyebar ke segala arah hingga menyisakan kesunyian di ruangan yang kini hanya aku seorang diri.

“Kamu nggak pulang, Alena?”

Aku mendongak, Ani, perempuan bertubuh kurus dengan kulit cokelat, rambut kemerahan karena sinar matahari, serta matanya yang agak sayu itu kini berdiri di hadapanku sambil memegangi tangan ranselnya.

“Nanti.”

“Mau main? Yang lain mau main taplak gunung.”

Aku mengangguk, lalu berjalan sambil menunduk seperti biasa.

Ketika kami berjalan ke lapangan, beberapa anak perempuan sudah berkumpul dan memulai permainannya.

“Kita ikut dong!” Ani menarik tanganku “Nih, Alena juga mau ikutan.”

Fani adalah salah satu teman sekelasku, dia termasuk anak yang berpengaruh di kelas karena semua anak perempuan berteman dan dekat dengannya terkecuali aku, dia bagaikan ketua di kelompok perempuan. Rambut hitam eboninya menjuntai panjang, kulitnya kuning langsat dan wajahnya cantik, dia salah satu anak kaya yang bersekolah di sekolahan ini, mungkin dia punya aura yang hebat untuk menarik anak-anak agar berteman dengannya.

Permainan berlangsung seperti biasa, tapi itu terjadi sebelum aku bertingkah aneh lagi—menurut mereka.

“Jangan lompat ke angka 4!” Teriakku, Fani yang hendak melompatpun berhenti mendadak “Jangan!”

“Kenapa?”

“Nanti kamu menginjak perempuan yang tertembak di situ!”

Sontak semua perempuan berteriak ketakutan dan berlindung di belakangku, kecuali Fani, dia memarahiku karena meenganggap aku mencari sensasi saja. Akhirnya ia mengusirku untuk tidak mengikuti permainan ini. Sempat terjadi kegaduhan sampai akhirnya guru kami datang untuk memeriksa apa yang terjadi.

“Bu! Dia nakut-nakutin kita lagi!” Si ketua mengadu.

Guru itu berusaha menenangkan mereka, kemudian mendekatiku hendak bicara sesuatu, tetapi aku memotongnya terlebih dulu.

“Maaf bu, lebih baik aku pulang,” Kataku, dengan bahasa baku yang biasa kuucapkan, aku membalik badan, baru dua langkah kulalui, tiba-tiba aku berhenti dan berkata “Fani...” Kataku sebelum pergi “Di langkah ke lima belas dari sekolah, bisa kamu menggeser tubuhmu 5 langkah panjang? Aku takut kamu mati.”

Sontak saja Fani berteriak, gurupun menasehatiku utuk menjaga kata-kata, mungkin ia mengira aku menyumpahinya agar Fani cepat mati, tapi... Aku punya firasat buruk tentang itu.

Akupun pulang sendirian ke rumah, dan keesokan harinya Fani tidak masuk, dia masuk rumah sakit karena kecelakaan, aku tidak tahu pasti penyebabnya apa, tapi ia masih beruntung karena tidak mati seperti yang kukira.

Semenjak peristiwa itu, semua anak-anakpun memanggilku dukun. Mungkin kalian akan tertawa, tapi aku membenci julukan itu. Aku bukan dukun, aku hanya memberitahukan sesuatu yang tidak baik. Aku sendiri tidak tahu darimana munculnya perasaan itu

*

Keesokan harinya aku memperhatikan anak laki-laki yang sedang berkumpul di dekat pohon mangga ketika pulang sekolah, satu diantara mereka menangkap katak kecil yang diambil entah dari mana.

“Eh, dukun! Sini!” Mereka memanggilku, aku menurut saja lalu menghampiri mereka “Kamu tau gak ini apaan? Hiiii...”

Mereka menjejalkan katak itu padaku, tapi aku tidak bereaksi apa-apa, wajahku datar dan tubuhku tak bergeming sedikitpun.

“Itu cuma katak.”

“kamu takut, kan sama katak ini, nih! Hiiiii...”

“Hentikan, aku bukan orang bodoh...”

Akhirnya mereka menghentikan itu sambil berdecak kecil lalu kembali bermain dengan katak. Beberapa diantara mereka ada yang menyiksa katak itu dengan cara menekan perutnya, lalu menarik-narik kakiknya, dan menusuk-nusuk bagian tubuh lainnya dengan ranting kayu runcing

“Kalian tau? Melihat darah katak yang keluar mengingatkanku pada salah satu kenalanku.”

Mereka berhenti sejenak karena perhatiannya teralihkan oleh ceritaku “ceritain dong, kenapa emang??”

“Dia seorang lelaki pribumi, tubuhnya penuh luka tusuk, lidahnya dipotong, matanya lepas karena dicongkel orang, kuku-kukunya lepas karena ditarik. Kalian tahu apa motif orang itu mati?”

“Motif itu apa? Motif batik? Bulet-bulet?”

“Semacam itu. Dan motif dia mati adalah ‘iseng’ seperti kalian.”

“iseng??”

“Orang mati menjadi hantu,  ia mendekatiku dan berkata ‘mereka yang menyiksaku akan mati’ Ya, akhirnya hantu itu melakukan hal yang sama. Hantu itu mencari tersangkanya, dan ketika dia menemukannya, dia mengikat si tersangka, lalu ia menarik kuku-kuku tersangka itu sampai berdarah, menyiram si tersangka dengan air keras dan air panas, membakarnya hidup-hidup, kemudian ia menguliti si tersangka, tidak hanya itu, ia memotong tiap bagian tubuh si tersangka dengan perlahan, namun pasti... Ia menyeringai melihat simbahan darah segar yang menetes, dan juga melihat gumpalan daging yang sudah ia potong, tak lupa dia mencongkel kedua mata tersangka dan ditekan dengan tangannya hingga hancur... Lalu...”

“Waaaaaaaaaaaaaa!!” Mereka berteriak  dan melarikan diri “mamahhhhh!! Papahhhhhhhhh!! Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Aku tersenyum dan bergumam “bodoh.”

*


Berpotong-potong gambar memenuhi penglihatanku, bagai melihat foto-foto raksasa dalam ruangan gelap. Foto-foto yang tak pernah terekam di memori ini, foto seorang perempuan berambut panjang yang tidak kukenali.

Mendadak, tempat di mana aku berpijak menjadi lembek bagai tanah basah, akupun terserap olehnya. Aku berteriak sekencang mungkin agar ada seseorang yang menolongku, tapi nihil. Alhasil aku terhisap dan tiba-tiba saja berada di kamar mandi rumahku.

Aku sedang berkaca sambil menggosok gigi, kupikir semuanya kembali normal, tapi mendadak semuanya berubah menjadi hitam-putih seperti efek kamera, dan ketika aku menatap kaca, dari kejauhan sana di belakangku, ada sesuatu yang melayang. Lalu aku menoleh, menyadari sesuatu yang melayang itu semakin dekat dan semakin cepat, akupun memejamkan mata.

Ketika aku membuka kelopak mataku, tepat di depanku ada wajah perempuan berlumuran darah sambil tersenyum, aku berteriak karenanya, terlebih lagi ketika melihat bola mata sebelah kanannya yang lebih menonjol seolah ingin keluar dari tempatnya. Siapa perempuan itu?

Ia tidak bicara dan menggerakan kepalanya ke arah kiri seolah memintaku menoleh, aku melihat sebuah tulisan bernama ‘Nia’ di tembok, seperti benda tajam yang digoreskan ke tembok membentuk huruf-huruf.

“Aaaahhh!!”

Berubah. Perempuan itu menghilang, dan kini aku berada di kamarku sendiri, lengkap dengan piyama dan tempat tidur. Aku bermipi?

Mendadak suasana kamar terasa mencekam dan dingin, perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Kamarku terasa lebih luas, lebih lembab, dan lebih wangi.

Tidak, tidak benar. Aku tahu itu... Aku memang bermimpi, lalu kalau aku bermimpi, sekarang siapa perempuan di hadapanku? Kenapa bola mata bagian kanannya seperti mau keluar? Lalu kenapa ia menyeringai padaku?

“Nia...” Katanya, yang menurutku ia berbisik atau memang suaranya yang seperti itu?

*

Sabtu, 13 Oktober 2012

bioskop

Akhir-akhir ini nggak buka blog, pas temen gua sms ngomongin blog, baru ngeh... "gue udah lama nggak buka blog."

Akhirnya nulis apa aja deh, ga berbobot juga :p *gajelas*

GUE MAU NONTON PERAHU KERTAS 2!!

Gue adalah salah satu penggemar karya Dee, meskipun nggak fanatik buangett...

Dan kalau soal nonton menonton sebenarnya gue bukan tipikal orang yang langsung "wah! uda ada, ayo cepet nonton!!"

Karena gue males kalau pertama-tama nonton pas baru muncul, pasti rame, dan gue nggak suka kalo rame-rame begitu. Bukan berarti gue nonton terus ngelakuin hal mesum gara-gara sepi (ew...)

Kalau nonton itu butuh konsenTERASI (jangan di capslock terasinya), dan kalau masih awal-awal pasti banyak orang, berisik, komen sana komen sini, teriak-teriak ga jelas, ketawa ngakak, belom lagi sinar hp, abg ga jelas yang ngikik-ngikik, yang kritik-kritik, yang sok-sokan, yang sewot, bwahhhhh!!

Gue pernah ada kejadian soalnya, waktu gue nonton di salah satu bioskop di mall dekat sekolahan gue.
Gue lupa nonton apa, jadi di depan gue itu abg ga jelas...(jelas sih, cuma guenya aja yang kesel, jadinya gue sebut ga jelas)
Sederet penuh mereka. dan pas film berlangsung...
1. satu di antara mereka naikin kakinya ke atas bangku depan, helooo... bukannya udah dibilangin ga boleh begitu, ya. Berasa di rumah?
2. Mereka malah ngobrol-ngobrol dan ngengosip ga jelas, ini kafe, tempat nongkrong, atau bioskop, ya? Kalian bayar mahal-mahal cuma buat ngobrol di sini? mending uangnya buat beli komik
3. ada yang main HP, dan sinarnya benar-benar ganggu gue. Okelah kalau sebentar, tapi ini lamaaaaaaa banget, pusing kena cahayanya!
4. ada yang cekakak cekikik ga jelas, berasa nonton film horror abal-abal
5. ada yang komentar-komentar dengan kata-kata ga sepantasnya "weh, bego tuh!" "awas an*ing!! t*i lo! *sensor* *sensor* *sensor*" 
6. di ujung sana ada bayi nangis. Gubrak, siapa suruh bawa anak ke dalam? apalagi kalo filmnya thriller+action+horror

Gue juga pernah marah-marah di bioskop gara-gara kesabaran gue abis, dan emosi gue nyembur...
1. Gara-gara mereka berisik, bibir gue udah monyong "shaaat shuuut shaaat shuuut!" akhirnya gue teriak sama yang di depan gue (kebetulan yang berisik di depan) "bisa diem ga, mbak? tau diri, kek! Keluar aja sana kalo mau berisik!" serius, gue ngomong begitu kencang sampe akhirnya dia langsung diam, dan pas film selesai lalu lampu dinyalain, dia baru keluar setelah gue turun.
2. Sinar HP, seperti yang udah gue bilangin. Pertama gue ngomong baik-baik "Mas, tolong HPnya dimatiin ya, atau nggak gak usah pake cahaya deh." Sampe akhirnya dengan nada yang gue tekan "MAS, TOLONG HPNYA DIMATIIN!" Tuh, kan! Gue baik! meskipun kesel masih pake kata "tolong"! lol

Sisanya udah, sabar-sabar aja lol

Dan sekarang, gue mau curhat (emang tadi bukan curhat?) kalo gue belom nonton perahu kertas 2, padahal gue salah satu penggemar karya Dee *bilang 2x*

Selasa, 17 Juli 2012

sepotong cerita dari novel

ini sepotong cerita dari novel gue yang belom selesai, behahaha... 


      Siang ini aku dan Risa berencana untuk pergi ke mall, sebenarnya hanya untuk mengusir rasa bosan, kami menonton film Mission Impossible di bioskop.

      Begitu sampai dan sudah membeli tiket, aku dan Risa memutuskan untuk pergi ke toko buku agar tidak bosan menunggu. Tapi, kami keasyikan membaca sehingga telat beberapa menit. Kami setengah berlari menuju bioskop, begitu melihat studio 3 sudah di buka, kami bergegas masuk dan lampu sudah dimatikan. 

       Di dalam begitu ramai penonton, kami duduk di barisan keempat dari atas dan agak pojok. Banyak sepasang kekasih yang menonton bersama, aku tidak iri, aku hanya bilang saja kalau yang berpasangan lebih banyak daripada, yah bermacam-macam. 

       “Sini, Sa.” Aku duduk di kursi ketiga dari pojok. 

       Ketika bagian Tom Cruise sedang menerima pesan rahasia di telepon umum, datanglah sepasang kekasih yang sepertinya duduk di sebelahku. Kehadiran mereka menggangguku yang sedang serius menonton—Sebenarnya aku kesal karena setelah itu si perempuan selalu berisik, ditambah ketika ia membuka ponsel, sinar ponsel itu sangat mengganggu! Sementara si lelaki serius menonton. 

       Dan ketika film selesai, lampu mulai dinyalakan. Aku melirik perempuan di sebelahku dengan mata tajam dan sinis. Jujur aku tidak bisa menatapnya dengan pandangan biasa. Sepertinya ia menyadari itu, maka ia segera bicara dengan kekasihnya untuk segera pergi. 

       “Karissa?” 

       Aku menoleh, melihat Marvin yang berada di situ, ternyata sepasang kekasih tadi adalah Marvin dan... perempuan menyebalkan itu? Oh yang benar saja!? Marvin?! 

       Aku tak acuh, lalu berdiri dan menarik Risa untuk pergi. 

       Samar-samar aku mendengar perempuan tadi bicara “dia siapa kamu?” 

       Karena belum selesai memilih buku di toko buku, aku dan Risa pergi ke situ lagi. Aku mencari-cari komik shounen yang sering aku beli setiap bulannya. Tak juga aku temukan. 

       “Nyari komik Fairy Tail?” 

       Aku mendongak, melihat Marvin yang berdiri di sampingku buatku kembali menunduk dan tak menjawabnya. 

       “Komiknya belom terbit, Sa. Tadi udah tanya, soalnya.” 

       Kuhentikan pencarian, lalu hendak pergi. 

       Marvin tampak cuek setelah melihatku pergi. Aku menoleh menatap punggungnya, punggung itu terlihat begitu dingin dan jauh di mataku. Entah apa yang membuat pandangan ini begitu berbeda dengan yang dulu. Mungkin keadaannya tak lagi sama seperti masa lalu. 

       Mungkin, karena ia sudah punya genggaman yang lain. 

       Makanya ia bersikap cuek. 


       Aku dan Risa sedang makan siang, kami duduk di tempat yang outdoor. Ternyata di luar gerimis, tapi tak apalah daripada tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya aku menatap gerimis dengan mata nanar. Gerimis itu cukup untuk memuntahkan kenangan dari dalam laci memori sehingga aku mengingat kenangan bersamanya di mall ini. Teringat ketika kami kencan pertama, kami janjian di depan mall. Ia tak menjemputku dari rumah karena dulu ia tak punya motor, akhirnya ia datang dengan metromini berkulit basah, juga tercium butir air yang terus menempel pada dirinya. Rambutnya basah kuyup karenanya, padahal ia bisa berteduh lebih dulu dan tak memaksakan diri untuk menerjang serangkaian air ini. Tapi apa yang ia bilang padaku? 

       “aku cuma gak mau ngundurin janji dan bikin kamu nunggu aku lebih lama, aku udah nepatin janji, kan?” 

       Kemudian aku berkata sambil menoyor kepalanya “Dari pada kamu basah begini? Ntar malah masuk angin. Aku gak marah kok kalo kamu telat!” 

       Dan dia berkata “Hujan gak bakal nyakitin aku, aku juga yakin, kamu sama kaya hujan itu, kamu gak bakal marahin aku. Hehehe...” 

       Saat itu, aku menoyor kepalanya lagi. 

       Marvin adalah orang yang jujur, ia tidak pandai gombal, ia juga tidak pandai merangkai kata-kata, ia tidak suka memakai kalimat orang lain dan lebih suka merangkainya sendiri meskipun jauh dari sempurna. 

       Ya ampun, kenapa aku benar-benar teringat tiap perkataan dan sifatnya?! 

       “HEI!” Risa membuyar lamunanku “Keinget Marvin, yaaaaa?” 

“Gak.” Jawabku bohong. 

       Gerimis masih memeluk permukaan bumi, angin sepoi-sepoi masih menyapu sekitarnya, matahari masih malu dan bersembunyi di balik kapas kelabu itu, kemilau jingga juga bersembunyi berdampingan dengan matahari. 

       Mungkin kini aku merasakan apa yang telah dikatakan Risa terdahulu. Menyesal. 

       Risa pernah berkata menyesal telah melepas Rizal dulu, meskipun sekarang mereka sudah kembali. Sekarang aku tahu perasaan Risa dulu. 

       Sesekali aku bermimpi, melihat senyumnya lagi, senyum untukku, senyum yang dapat kumiliki dari bibirnya. Ditambah lagi, ketika akulah alasannya. 

       Aku menatap langit kelabu lagi, dan kini menyesap kopi. Ditambah memori di masa lalu yang tak sengaja mampir.
***

Hei Senja

Hei senja, apa kabar?
Kenapa sekarang kamu jarang datang? 
Aku rindukan kemilau jingga yang meledakkan keindahan yang tak abadi itu.
Karena tak abadi, makanya berharga.

Sekarang awan kelabu sedang berkumpul menjadi satu. 
Mungkin senja capek berdiri di sini, 
makanya awan itu menggantikanmu. 

Hei, senja. 
Apakah ketika nanti kamu datang, 
aku boleh menyimpan sepotong keindahanmu, 
lalu kuhadiahkan pada dia?

Sabtu, 02 Juni 2012

move on!

"Nevermind I'll find someone like you" _alt_kaomoji
WHUT!!!

_alt_newplziconGENJRENGG!
Gue akan lebih suka jika kalimatnya diganti "Nevermind I'll find someone better than youuuu...!!" _alt_newplzicon

dan akhirnya berbulan-bulan gue berada di masa galau, sekarang gue udah sembuh!

Yayyyyy! _alt_newplzicon

Gue udah biasa aja sama dia (untungnya jarang ketemu dan hampir gak pernah ketemu lagi karena dia udah lulus) Gue seneng banget.

Lalu tiba-tiba aja ada yang nanya "Lo benci sama dia?"

Nggak. Awalnya emang ada perasaan kesal, tapi lama-lama sih biasa aja karena gue yakin ini salah satu proses pendewasaan juga melatih hati gue. Pasti gue lebih kuat selangkah daripada sebelumnya, karena gue belajar.
Gue udah nggak sepolos yang dulu, sekarang gue lebih selektif memilih orang.

_alt_YUNOyou know what? gue sekarang mulai berpikir dengan cowok cool dan cowok "cool" sekarang.
Banyak cowok yang bersikap sok "Cool" _alt_TROLOLO

Selektif memilih lelaki, meskipun seharusnya perempuan seusia gue pada umumnya bersenang-senang buat pacaran (asal ada yang nembak itu tajir, ganteng, okelah, gaul)_alt_NO gue gak mau.
Karena menurut gue, ya. Perempuan yang kebanyakan mantan itu "murahan" apa lagi yang udah dipegang-pegang

lho? kok jadi agak ngaco ya sama judulnya??

ya udahlah, intinya sekarang gue BEBAS GALAU!_alt_HAPPYFOREVERALONE

jangan katakan lo gak bisa ngelupain si dia, dan lo harus percaya sama diri lo sendiri, juga ada kemauan buat MOVE ON!!

*troll dance*  _alt_TROLLDANCE

Jumat, 18 Mei 2012

coretan ga jelas gara-gara di PHP-in

sekali-kali nulis ga baku banget lah.

Lo tau gimana rasanya dikhianatin?
Nyesek. Emang.

dan tergantung kekuatan lo aja. Lo bisa mati, kalo kekuatan lo ga pantes disebut ke"kuat"an dan lebih pantas disebut ke"lemot"an.

Gila, gue gak habis pikir, kenapa dia harus ngangkat gue tingg-tinggi terus ngelempar gue ke jurang gak berdasar-oh entahlah.

Apa dia merasa dirinya laku banget? Lantas ngelakuin hal itu?
Lucu.

Gue juga bisa, tapi ternyata gak pernah bisa.
Gak bisa apa? Gak bisa ngelakuinnya. Bukan lantaran karena gak ada yang suka atau gak laku.
Entahlah, mungkin karakternya begini. Sisi plegmatis gue keluar, pikir-pikir.

Gak mau cari masalah baru.
Buang-buang waktu.

Gue aja heran sama dia, ngasih gue harapan sekian lamanya. ngabisin beberapa waktu dari hidupnya yang singkat cuma buat nyakitin hati orang seperti gue. Kurang kerjaan? atau kesepian? mungkin keduanya.
Kaya ga ada kerjaan lain yang lebih bermutu aja?
Gak penting.
Nambah dosa.
Gak mutu.
Intinya?
Ngasih harapan palsu ke orang cuma ngerugiin lo semua. Lo sendiri, dan juga si dia.
Gila.

Dia, kesalahan besar gue.
Bodoh, ngapain gue bertingkah layaknya orang bego dulu?
ha...ha...ha...

Gue benci dia? nggak.

Gue tertawa.
Gue tertawa, karena sikap gue yang terlalu..., ah entahlah. Siapa peduli.

Jumat, 27 April 2012

akhir penantianku

aku selalu bertanya pada hatiku.
dimana akhir penantianku selama ini?
apakah masih terlalu ujung lagi?

tapi...

tak terhitung sudah waktu yang terlewat begitu saja.
harapannya kini melepuh terbakar kenyataan yang ada
bahwa harapannya kini tak sehangat yang dulu

mungkin terlalu lama terbakar
atau mungkin terlalu kering
atau juga yang lainnya

entahlah, aku tak tahu itu.

aku perlu mempertanyakan kembali padanya
jelaskan semua kisah yang selama ini semu
kisah yang ia jadikan hiburan
dan kisah yang kusebut harapan

aku bertanya dengan nada
mulutmu terkatup, membisu sejenak
sampai akhirnya lontaran kata kejam muncul bagai merajam hati

cuma lancung, harapan yang diberikan memang semu

inikah akhir penantianku?

bergerak dari lubang sini

dimarahin ibu-ibu yang lagi jemur daleman

Siang itu gue dan Champret lagi nungguin sholat jumat selesai + nunggu motor gue balik (lagi dipinjem temen buat ke sevel dia bilang). Sekolah gue terletak di komplek perumahan gitu lah.

Nah pas sholat Jum’at berlangsung itu kantin sepi. Gue dan Champret duduk di bangku kantin depan. Agak terbuka gitu deh, jadinya bisa liat balkon rumah orang.

Pas gue nengok ke balkon rupanya ada ibu-ibu lagi ngeringin dalemannya. Dia cuma pake handuk doang!

Akhirnya gue dan Champret cuma ketawa singkat doang, lalu gue dapet ide buat nulis novel gue yang masukin joke-joke ringan sambil ngebayangin kalo gue dan Champret masuk dalam novel itu. Tapi ibu-ibu yang lagi ngeringin dalemannya malah berprasangka buruk! Dikira dia itu gue dan Champret ngetawain dia? Oh god...

Jadi tuh gue ketawa-tawa, tiba-tiba ibu-ibu itu marah ga jelas sambil teriak-teriak “biarin aja! Dasar ga sopan ketawa-tawa liat saya!!”

Pas tuh ibu-ibu ngomong gitu, gue langsung ngelirik ibu-ibu itu(karena gue lagi pake jilbab putih, pas gue lirik jadi keliatan sosok tuh ibu-ibu soalnya rada transparan gitu deh jilbabnya) Dia marah-marah ga jelas sambil ngelirik kami.

“Tunggu, Cha. Gue mau dengerin tuh ibu-ibu.” Kata Champret. Akhirnya gue sama  Champret  diem dengerin suara tuh ibu-ibu. Bener gak dia marah ke arah sini? Siapa tau aja dia marah-marah sama orang lain.

Karena udah nggak dengar ibu-ibu itu bersuara, akhirnya gue nunjukin HP gue, mau ngasih tau gambar lucu (gue foto muka teman gue yang lagi tidur) eh ibu-ibu itu marah-marah lagi.

“emang bener dasar ga sopan! Udah saya liatin dari tadi masih ngetawain saya!! Sialan!” Teriak tuh ibu-ibu, kepedean.”Ga diajarin sopan santun emang!!”

Sebenarnya gue udah marah itu. Tapi gue ngeri aja dilempar balok gede sama dia, soalnya tuh ibu-ibu megang balok di tangannya -__-

Gue kesel, sih.

Gue mau teriakin ke tuh emak-emak eh, emak-emak berbalut anduk, Jangan kepedean, deh. Dikira gue ngetawain lo? Kalopun gue ngetawain lo, harusnya tuh lo sadar. Ngapain keluar rumah ga pake baju! Cuma pake handuk!!lo tuh yang ga sopan! Ga tau malu! Ga diajarin sopan santun, ya?’
grrrrr....

Akhirnya gue cuma ngelus-ngelus dada “sabar, Biarin aja, biarin...” karakter plegmatis gue keluar.

Damaiiiii...!

Selama sholat jumat masih berlangsung, ibu-ibu itu masih ngoceeeeeeeh aja ngata-ngatain gue dan si  Champret . Tapi gue cuek aja, tuh ibu-ibu masih di balkon pake handuk doang.

TENG!

Akhirnya sholat jum’at selesai. Abang-abang yang jualan di kantin balik ke kantin. Pas seorang abang-abang ngeliatin balkon rumah itu. Si ibu-ibu gaje langsung ambil dalemannya dan ngibrit ke dalam rumahnya.

Oh, gila. Gue cuma diem, sementara si Champret ngedumel marah-marahin si ibu-ibu balik.

Giliran ada abang-abang aja ngibrit. Giliran tadi gue sama Champret  aja diomel-omelin.
mana pas tuh ibu-ibu udah masuk pake banting-banting pintu segalakkkk!! =)

Makanya, lain kali kalo mau ke luar rumah atau sekedar ngejemur daleman, pake baju dulu, ya =)) *ngakak beneran*

Kamis, 29 Maret 2012

lagi kismin, men

Siang itu gue, saat pelajaran bahasa Indonesia sehabis istirahat tiba-tiba perut gue main keroncong [baca: lapar]. Mungkin kalian bertanya, kenapa pas istirahat gak ke kantin aja? Ya, karena sebelum itu adalah waktu sholat. Mungkin kalian bertanya, lantas apa hubungannya? Hubungannya, gue lagi 'nggak sholat' karena biasa lah perempuan. Tapi harusnya gue ikut keputrian di ruang kesenian. Karena males turun, gue dan teman-teman sekelas gue yang lagi 'dapet' ngumpet dibawah meja sampai selesai. Setelah itu bukannya turun ke kantin malah pada ngobrol!
Makanya pas pelajaran bahasa perut gue jadi keroncongan.

Akhirnya pelajaran selesai.
Tiba-tiba si Kampung ngomong sama gue "Cha, ke kantin, yuk!"
"Lo ngomong sama 'cha' siapa? Gue atau Champret?" Kata gue. (maksudnya Chantik dan Champret)
"keduanya"
Yaudah, akhirnya kita bertiga ke kantin...

Beginilah percakapannya selama perjalanan ke kantin (K=kampung, C=Champret, G=guwweehh )
C  : duit gue tinggal goceng, ntar pulang buat naik getek ama angkot
K : sama, gue juga!
G : gue... cuma punya 3 ribu *melas*
C  : ntar kita patungan ajaaa!
Lalu saat sampai di meja kantin kamipun duduk.
C  : *ngeluarin duit goceng lecek* gue beli nasi, kampung beli mie, lo beli minuman tuh es semangka!
Akhirnya kami bertiga berpencar. Lalu berkumpul di meja panjang itu bertiga. Gue ngeliat ada nasi dan mie goreng rendang + 2 sendok di meja, lalu gue menaruh minuman...

Kebetulan minuman abis duluan, lirik sebelah ada teman gue lagi pacaran (masih anget2 pacarannya) Guepun memanggil dia "weh, masih penuh tuh minuman?"
Dia ngelirik gue dengan wajah sok tampan didepan pacarnya "nih, ambil aja ambil aja..." Dia ngasih gue satu gelas penuh es teh manis. Tanpa basa basi gue ambil dan gue minum bertiga bareng kampung dan Champret.
Bener-bener kere bulan ini!

Bahkan si Champret  masih lapar dan nekat "duit sisa seribu ya kalo nanti buat naik angkot. Seribu seribu, yuk beli gorengan. Lumayan! Kalo bisa ntar kita numpang ngamen aja di bisnya. Hahahaha... kan gratis tuh!"

Gue cuma diem. Pastinya gue nggak ikutan ngamen, gak senekat itu, men :cool: .

Jumat, 27 Januari 2012

kamis...

Gue bakalan cerita waktu hari kamis kemarin.
Gue berangkat seperti biasa jam 6. Waktu masuk gerbang gue biasanya mengemudi dengan kecepatan medium lah, tapi begitu gue ngeliat si dia di depan gue. Mendadak gue "sangat" kurangi kecepatannya. Gue nggak tau harus pasang muka apa kalo ketemu dia.
Nyengir? ketawa-tawa? nyapa? Oh meeenn, gue berharap muka gue di pantat saat itu!

Jadilah, saat gue belok ke arah parkiran, gue berhenti sebentar, pura-pura betulin tas miring (yang padahal enggak miring, malah otak gue yang harusnya dibetulin posisinya). Gue mastiin dia turun dari motor, menaruh helmnya, lalu cabut ke kelas dengan langkah panjangnya. Barulah gue parkir motor gue. Biasanya gue senang banget kalo bisa sebelahan di barisan pertama, tapi sekarang enggak. Gue langsung mundur, pindah ke barisan kedua.
Gue lama-lamain aja disitu, biar nanti di koridor dan ditangga nggak ketemu sama dia. Gue-pun sekolah seperti biasa, nggak ada yang tau masalah gue. Yang tau cuma lu lu lu pada yang baca ini dan sahabat-sahabat gue aja. Cekapetewe aja! Gue ke lantai 3, ngaca di deket tangga, mastiin mata gue udah nggak berkantung, bengkak, dan hitam lagi. Gue jalan seperti biasa, agak nundukin kepala.

Saat sholat dzuhur biasanya gue lari-lari ke masjidnya biar cepet, dapet tempat yang enak. Yaaaa... disitu gue sholat berjamaah, pas selesai sholat, gue perhatiin dibawah, nggak ada anak kelas 12? Oh baguslah... Sepertinya masih pada TO.
Di lantai 2, murid-murid mulai keluar dari masjid, sepi banget, gue masih nunggu teman gue pake jilbab. Gue iseng-iseng ngeliatin orang-orang dibawah, tapi... gue ngeliat sosok yang nggak asing bagi gue. Cara dia berjalan, model rambutnya, tingginya, kurusnya.. itu si dia! Dia lagi wudhu, gue hapal betul. Akhirnya gue langsung ngomong sama teman gue agar lebih cepat memakai jilbabnya, tapi dia malah makin nyantai. Yaudah gue ngobrol sama teman gue yang lain.

Posisi ngobrol gue emang keliatan kalo dari lantai 1, jadi... tanpa sengaja gue ngeliatin si dia yang lagi wudhu, karena gue nggak bisa buat fokus ngobrol sama satu orang dengan ngeliatin matanya. nggak bisa, pasti mata gue kemana-mana (bukan matanya yang jalan-jalan! pandangannya!). Ehhhh... tiba-tiba si dia nengok ke atas, ngeliat gue yang lagi ngeliatin dia.
Sumpah! Gue nggak bermaksud buat ngeliatin dia!! Syit meeen, gue cuma takutnya dia mengira "gue masih ngeliatin dia, mandangin dia, looking from the distance seperti yang sering gue lakuin dulu"
Dengan cepat gue membuang muka, lalu lari, gak peduliin teman gue.


Gue bingung. Gini lah nggak enaknya satu sekolahan, satu organisasi juga! (baca: ekskul)

grrrr

Jumat, 06 Januari 2012

Allison harvard

Sebenernya gue ga ada yg spesial dari dirinya waktu nonton America's next top model. Tapi pas dirumah gue nonton yg All stars pas episode bikin foto berantem gitu lah, mata nih perempuan itu gede banget, gue suka sama matanya



Allison Elizabeth Harvard sering dipanggil Creepy-chan (gara2 matanya nih bikin serem) , AlliHarvard, Allicat, Queen of /x/
Tanggal lahir January 8, 1988 (wah besok ulang tahun)

Tingginya kurang lebih 178 cm (kambing, gila, tinggi!) berat badan sih katanya 54 kg (buset kurus banget)




waktu para pesertanya bikin music video. Padahal awalnya dia minder gara-gara katanya lagu dia paling ga menarik, dan dia ga pinter buat lagu. lagunya ngebosenin. Tapi nih dia ternyata paling bagus pas dibagiin hasilnya sama si Tyra :P


She is unique




suka gambar juga, dia nulis di bio twitternya "I like to paint" sering pake emot ":3"
pic.twitter.com/TnES9H0u       

Beautiful weird -_-


bye! (OAO)/


Rabu, 04 Januari 2012

jangan dibaca, ga jelas abis!!

Awalnya gue abis nonton drama 1 Litre of tears...
Bagi para penggemar dorama pasti tau 1 Litre of tears. Ini drama lama sih, waktu itu juga pernah ada di salah satu stasiun tv di Indonesia, dan gue waktu itu nggak sempet nonton sampai habis, jadinya gue beli  :p

Itu lho, kisah perempuan yang bernama Aya berjuang untuk hidup, kena penyakit yang langka nggak bisa disembuhin lagi. Karena penyakitnya, orang yang dia sukai mulai menjauh, beberapa teman sekelasnya menganggap dia menyusahkan, dia dapat tatapan nggak enak dari orang-orang disekitar yang mencap dia sebagai "gadis cacat". Tapi dia tetap tersenyum dan tertawa, dia nggak malu dengan penyakitnya itu.
Ng... gue kagum banget sama Aya. Dia emang benar-benar gadis yang kuat... Gue nggak bisa bayangin kalo gue berada di posisi Aya.

Gue nonton drama itu sampe nyabut-nyabutin tisu dari tempatnya buat nyeka air mata gue dan juga ingus gue*ups*
Pas Aya ngomong "Ibu, Ayah, Dokter, apa aku bisa menikah?" itu gue bener-bener dibikin mewek.

Dalam satu hari gue abisin nonton drama ini di kamar nyokap gue. Setelah drama selesai, gue tidur... dan mimpi...
Gue deg degan, suara jantung gue terdengar sampai menggema di telinga gue. Nggak taunya gue lagi duduk di kursi roda, pemandangan di sekitar itu sama dengan sekolahnya Aya. Hiks, semua orang mulai ngeliatin gue... Gue nundukin kepala dan terus jalan dengan kursi roda gue. Tiba-tiba kursi roda itu nggak mau jalan karena mentok, di depan gue ada orang. Gue liat wajahnya ternyata si "A" (orang yang gue sukain)
Lho?? gue bingung. Dia nggak ngucapin apa-apa sambil mengulurkan tangannya ke gue.

Gue bangkit, dan tiba-tiba tubuh gue nggak bisa digerakin. Lalu dalam sekejap, pemandangan berubah menjadi rumah sakit yang ada di drama itu. Dan setelahnya gue lupa apa lagi mimpi gue, haha...
Gue bangun, liat jam nunjukin pukul 4 sore, kok gue deg-deg-an -__- ??

Akhirnya gue bengong sambil dudukin selimut, terbesit lagi terbayang beberapa potongan drama tadi, ah lebay nih kok masih kerasa ampe sekarang. -_______-