Senin, 23 Desember 2013

Cicit Cuwit!!

Oke guys, sudah lama gue nggak muncul di peredaran. Dulu gue sering banget posting ini itu di blog lama gue, dan kayaknya semenjak pindah ke blog baru, gue jadi jarang gitu (padahal emang dari guenya sendiri yang males)

Kalo dulu waktu jaman mau kelulusan SMA, teman-teman gue menulis opini mereka tentang karakteristik masing2 anak di kelas, namun berhubung gue nggak dekat dengan semuanya dan cuma segelintir orang yang terpilih aja (akibat sesuatu yang terjadi di kelas gue, hiks) gue memutuskan untuk nggak nulis. Okay.

Gue kuliah di sebuah institut yang nggak jelas negri atau swasta. Katanya sih swasta, tapi ada campur tangan pemerintah juga. Namanya IKJ, dan gue adalah seorang maba di sana. Gue seorang calon interior designer yang awalnya pingin banget masuk DKV. Sebenernya gue kepingin jadi interior design gara-gara... ah udahlah!

Jadi, awal masuk kuliah itu maba nggak langsung masuk penjurusan. Mereka harus mempelajari Pendidikan Dasar Seni Rupa dulu. So, baguslah. Gue tadinya anak DKV yang mualaf pindah ke interior. Tahu gak? Pas gue iseng2 liat data2nya. Anak DKV ada 3 lembar nama, sedangkan anak interior cuma setengah lembar doang! Pffttt!Gapapa, bagus, jangan banyak-banyak, ya. Ntar saingan gue nambah!

Balik lagi. Gue masuk ke kelas C. Pertama kali masuk, kelas ini udah asik banget. Sebenernya di hari pertama itu gue udah sok akrab aja sama mereka. Itu bukan gue bangett. Tapi berhubung demi masa depan gue, gue nggak boleh jadi orang jutek bermuka angker lagi, gue harus punya banyak teman! MUAAHAHAHAHAHAHA Dan di kelas C inilah gue benar-benar bisa jadi diri gue sendiri.


Reni Marlina Syarif
Gue pertama kali ketemu dia di GKJ gara-gara kami berdua salah baju! Ya beneran! Yang lain pada pakai baju batik, cuma gue dan Reni yang pakai baju biasa, udah gitu ga bermotif! Mencolok abis pemirsahhh! Dan ternyata... dulu kami satu SMA. Yak sebuah takdir (pfffttt...)
Dia teman sebangku gue. Anaknya mungil, kurus, rambutnya tipis, dan gelian kalo punggungnya dipegang dan cantik, banyak yang naksir, sodarah sodarah!
Dia kadang-kadang curhat sama gue, tapi berhubung gue cuma bisa dengerin dan nggak begitu pinter menanggapi curhatan orang, atau muka gue keliatan kriminal lantas dia nggak berani cerita banyak sama gue.
Gue selalu ngomong sama dia... "bajunya bagus, beli di Senen, ya?"
Ya, gue suka ke Senen bareng dia. hahaha...
Calon interior designer bareng gue.

Talitha
Suka kesel kalo namanya ditulis Talita atau Thalita. Nama panggilannya Ali. Katanya, cewek yang dipanggil Talitha itu banyak, tapi kalo Ali jarang. Suka sama band FOB dan meskipun anaknya rada pendiem dan muka kalem kaya orang tertindas, playlist hapenya band-band rock. Hampir semua dosen Seni rupa kenal sama dia karena orang tuanya juga alumni situ "LHO?! ALI, YA?!"
Gambarnya bagussss banget, serius. Dia sering bilang kalo kehadiran gue itu mengintimidasi dia *pundung* dia juga teman sebangku gue kok.Dia pernah ditegur sama Haniyyah kalau pakai celana atau dress pendek, katanya, dia nggak suka liat Ali pake yang berpotongan pendek.
Gosipnya pacaran sama Aji, tapi cuma beberapa jam doang, abis itu putus lagi saudara-saudara!
Gak jelas nih anak mau masuk seni Murni atau Fashion Design

"LHO ALI YA?!!"


Melfi Estianti
orang-orang sering salah nulis namanya menjadi Melvi. Tapi kelakuan memang nggak seindah namanya. Dia awewe paling gokil dan setress yang otaknya miring gelinding-gelinding turun gunung terus nyemplung ke samudra. Dikit-dikit ketawa, dan gue nggak ngerti sama selera musiknya dia. Random abis. Dangdut? Oke! Rock? Oke! Galau? Oke! Melayu? Oke Instrumental? Oke. Tapi pas gue kasih malah dia bilangnya "jangan ini, dong, coba yang lain" *gubrak*
Dia blasteran, mukanya kaya bule. Bulepotan! Sunda Batak! Muka bataknya gak keliatan, cuma tulang pipinya aja yang kaya orang batak, sisanya made in Kuningan! Bisa ngomong sunda dan suka dipanggil Empi di kampungnya. Awewe paling cantik di kelas, sering digodain rambutnya tiap hari gonta-ganti warna. Tiap ke kampus cuma 3 jaket yang pernah gue liat, dan dia selalu memakainya setiap hari ga ganti-ganti. Bilangnya mau masuk DKV.
Nama panggilannya.... CUCUR.

Flencia Da Rosalin
Kirain gue perempuan bule Latin gitu, gak taunya orang Tionghoa. Tapi gak pernah mau dipanggil keturunan China dan bilang kalo dia gak ada keturunan China sama sekali. Tapi memang diantara keluarganya, cuma dia yang paling mongoloid. Kayaknya gara-gara itu dia dipanggil CICI. Mungkin Flencia kebagusan.
Orang yang paling sering gue bully, lomba melotot-melototan sama gue namun dia selalu gagal.
Dia seorang wanita setrong karena kuliah sambil kerja di Jakarta, dia perantau asal Semarang yang digosipkan kalau rumahnya itu di basement Lawang Sewu. Rabutnya panjang banget, teksturnya kaya abis direbonding. haluuussssss banget. Paling sebel ngomong sama dia, pasti selalu dijawab "HA?" Lango abis, telmi, sering dibecandain anak sekelas dan ternyata pengetahuannya cukup luas, dia juga seorang penulis basa-basi yang baik. Bahasanya bagus. Dan kalo ngomong bahasa inggris, aksen Jawanya masih kental. Sekarang lagi mudik ke kampung buat Natalan.
Ada rumor yang bilang kalau pacarnya seorang pengusaha kapal penyebrangan. Dan Cici adalah seorang calon interior designer.

Haniyyah
NAMA PANJANGNYA SIAPA? HANIYYAH! HANIYYAH DOANK! Namanya Hani. Hijabers. Bilangnya gak punya jaket, makanya jaket pacarnya dicolong sama dia. Seorang penagih hutang karena setiap hari dia selalu aja inget utang-utang anak di kelas yang abis beli pulsa sama dia.
Kalo ngomong katanya sih rada pedes gitu, rese emang anaknya, sini gue ketekin! Tapi gitu-gitu dia baik kok, dia menegur ali (sebenernya dia juga jujur gara-gara main TOD) karena dia ngeliat cowok-cowok di kampus ngeliatin kaki seksinya Ali pas pakai dress pendek dan dia gak mau temennya diliatin sama cowok-cowok idung belakang, eh belang.
Seorang penakut. Dia dan cucur sering ngajakin gue buat sholat, teman yang baik. Calon seorang fashion designer.

Yuliana
Namanya Yuliana. Yuliana doang. YULEEEE GUYYSSS, pertama kali yang gue liat dari Yuli adalah seorang cewek manja borju berbehel yang gahol. Gak taunya dia sederhana dan baik hati, guys, baik bangettt. Ciyus.
Dulu sahabatnya Natali, tapi berhubung Natali jarang masuk, dia sekarang jadi artis kelas yang kurang waras. Suaranya EMAS banget, sempet masuk indonesian idol tapi gagal jadi finalis gara-gara mengundurkan diri, dia gak kuat terlalu banyak fans.
Gambarnya UNIK BANGET! Picasso kalah. SERIUS! Dan dia calon seorang fashion designer
Dia juga sering jadi bahan bully anak-anak sekelas selain Cici. Cara ngomongnya sering banget ditiru anak-anak sekelas seperti.. "HAI GUYYSSS!" "MAU MAKAN APA NIH GUYSSS??""IIUUHH GUWWWEEHH KHANN ARTISS! MASBULOHHH??" Dia lebih sering dibully sama si Asso. Seorang perempuan paling rempong, dan seorang selebriti di kelas.

Natali
Gue engga tahu nama panjangnya, ehehe. Ex.Ketua kelas. Dia jarang masuk, tapi semenjak mau UAS, dia mulai rada rajin. Dulu penampilannya girly abis kalo ke kampus, tapi semenjak masuk SENDAL (pecinta alam gitu) penampilannya agak berubah jadi lebih kasual. Pas awal2 masuk kampus, ada cowok yang naksir sama dia terus nyanyi-nyanyi di pinggir kelas. Wakakakakakak...norak banget cowok itu.
Natali bilangnya mau masuk DKV.


Ramadhani A.N (A.N? anak?? Agung Nurcahyo, men!)
Satpam kelas, polisi kelas, abri kelas, bapak kelas. Badannya gede banget! Gak gendut, cuma tinggi gede! Suka lari-lari. Lari pagi, lari siang, lari sore, dan katanya dia pernah digodain sama ibu-ibu di GOR, pemirsahhhhhhhh!! Pacarnya mirip banget mukanya sama Hani, wahaha. orang paling ambigu di kelas, bikin anak-anak jadi piktor, sialll si Dani.
Seorang calon interior designer yang pindah haluan dari DKV (pergi lu! Husshhh!)

M.Aji. Satrio
Namanya samaan ama dosen anatomi gue yang nyentrik abis. Pertama kali gue liat, kirain gue Aji adalah seorang banci yang gay karena pernah menjalin asmara dengan Dani. Dia pernah bilang masuk ranking 4 dari 6 siswa di kelasnya sewaktu SMA. Bilangnya mau kurus, tapi gak kurus-kurus (kaya gue, hiks)
Anak-anak sekelas sepakat kalau Aji lebih baik rada brewok karena dia keliatan lebih macho dan lebih anak kuliahan daripada dicukur... Ali bilang kalau aji brewok kaya pedofil, tapi kalo nggak brweok kaya korban pedofil. Tiap hari bajunya basah karena keringetan abis dari kereta. Pas pake baju warna pink keliatan kurus tapi akhirnya dia ganti pakai baju warna biru.
Gosipnya pernah menjalin asmara dengan Ali selain Dani. Tapi cuma beberapa jam doang, guys. Dan dia frustasi abis gue tolak pernyataan cintanya.
Dia sama kaya Dani, mualaf. Mualaf ke interior dari DKV maksudnya. Gue curiga dia masuk interior karena emang mau, atau mau deket-deket sama FAKHRI?!

Fakhri Fajar.
Orang-orang manggilnya "eh, FUCK! FUCK! FUCKRI!" si rambut brekele yang behelnya kinclong. Plat motornya F sama kaya Dien. Diam-diam mainnya game the sims karena dia seorang calon interior designer (bankai! banyak banget anak interior di sini!) Berhubung di kelas gue yang bawa motor cuma tiga, kalo ke pameran, biasanya gue bareng sama Fakhri juga.
Kalau habis pake topi itu lucu, rambutnya langsung lurus, tapi pas dilepas langsung jadi badai. Coba deh lempar penghapus, lilin, lemari, kasur, mobil, atau beton ke rambutnya, dia gak bakal berasa benda apapun yang dilempar ke rambutnya!

Dien Juniar Reza
Tinggi, kurus. CUNGKRING! Plat motornya juga F. Dulu pernah ada berita kalau ada anak kost yang titinya dibakar, dan ada rumor yang bilang kalau orang tersebut adalah Dien. (wat?) Gantengan rambutnya sewaktu pendek, pas gondrong kaya gembel ga keurus berhubung badannya kurus abis, maklum anak kost. Tiap hari makan rendang, soto, dan kari ayam dalam bentuk mie instan.
Dia naksir berat sama Reni, sempat menggemparkan anak sekelas karena status BBMnya "pingin jadi moodboosternya RMS (Ramadhani Mur Sahyo)" Dia juga suka gak jelas, dan sering gue godain tentang Reni. Dia bilang kalau dia clalu chaiiank Reni apaphun eank terjadhie.


Rahmat Ashari
Nama panggilannya Asso. Gambarnya tipis dan alus banget, sering banget ngebully Yuli, tapi akhir-akhir ini dia ngebully semua orang bahkan gue kena bully.
Pernah gambar muka cucur dan itu sangat miirip sementara Cucur gambar si Asso dan mirip juga sementara gambarnya yang lain nggak ada yang mirip dengan teman-teman. Hmm.....Berdehem doang.
Bilangnya mau masuk Seni Murni. Jadi kalau ditanya "kamu murni kan lulus kuliahnya?!" dia bakal menjawab "MURNI! 100%!"

Danar Sesio
Kacamatanya kaya Harry Potter, anak jedak jeduk (kepalanya dijedotin), dan supel. Sering latihan gambar di kelas, tapi cuma mata sama idung doang!! Hah!Mata sama idung doang yang digambar!!
Kayaknya dia anak sio-sio dilahirkan, makanya dinamakan Sesio.
Anak DKV, tapi akhir-akhir ini dia bimbang, bilangnya mau masuk interior. udah gak usah pindah!! Di DKV aja sana! *tendang*

Mas Yan
Nama panjangnya Yan Fathoni kalau gak salah ye. Dia udah sepuh, serius, sepuh. Makanya gambarnya dewa banget. Pertama kali liat, kirain gue dia dosen nyasar di SD. Rambutnya gondrong, dan selalu gondrong segitu-gitu aja. Asalnya orang Jawa, dan suka banget meper-meper sesuatu ke kepala orang (ngusap-ngusap gitu)
Anak Seni Murni.

Zulkifli
Kipli atau Kilong nama panggilannya, kayaknya mau masuk seni Murni, apa kria? atau DKV?. Dulu waktu rambutnya gondrong, kalau dari belakang tuh keliatan cantik kaya perempuan. Tapi dari depan cukup menggemparkan jutaan manusia di pulau Jawa! Dan kali ini... dia benar-benar menggemparkan masyarakat karena dia membabat habis rambutnya jadi pendek! DIA MIRIP SAMA EX MEMBER BOYBAND! Si... Aryo! Aryo Dipo!

Bimo Pangestu
Pecinta Anime dan manga, juga jejepangan. mengaku sebagai mantan penggemar JKT48. Gambarnya bagus banget gilakkk!! Serius! Kalo kata dosen gue, gambar dia itu pakai titik ilang. Calon anak DKV kayaknya.
Suka gak jelas juga anaknya ketawa dan bikin jokes kerispi, sering ngomong sok imut gitu pfftt... Bimo bilang jari tangan gue eksotis,apalagi pas lagi bilang "mba, godain kita dong" *sambil toel-toel dagu*.
Dia naksir sama Ali, tapi sayangnya Ali uda punya pacar.Bimo pun gak mau kalah, dia ngaku-ngaku punya pacar, tapi gue curiga dia Nijikon dan akhirnya pacaran sama Hatsune Miku*kabur*


Sakka Zaki
Cowok paling cool dan tsundere di kelas. Komik banget deh! Gambarnya manga mulu, sempet ditegur dosen anatomi gara-gara mukanya jadi manga semua.
Kalo ngomong bikin orang emosi karena dia kalo ngomong urat nadinya moncrot-moncrot. Duduknya bareng sama Bimo. Bajunya Sakka gak ganti-ganti kata Dani dan Aji. Kalau nggak Hatsune Miku, cewek oppai, ya captain america. Tapi Sakka ngakunya dia punya baju sama semua namun sejenis, kaya bajunya tokoh-tokoh anime yang kalau di tiap episode ga ganti-ganti bajunya.
Anak DKV

Ex member::

Aryo Dipo
Beberapa orang, bahkan hampir semua anak sekelas lupa gimana sosok cowok ganteng ini. Tapi gue masih ingat. Ah, apakah aku mencintainya? Pfffttt... ya inget lah, wong dia duduk di sebelah gue dulu, terus waktu dia pindah ke depan gue, sewaktu pelajaran anatomi, gue gambar dia. Kurus kering kerempeng macem Dien, tapi dia lebih pendek dan berkulit sawo matang.
Gue nggak begitu tau dia gimana orangnya. Habisnya baru beberapa hari di kampus, dia ilang dari peredaran.

Insan Kamil
Dipanggil Ichan. Orangnya dulu sering ceplas ceplos dan lucu, duduk di belakang gue. Rambutnya gondrong, badannya berisi pas sama tingginya. Pokoknya dia kalo duduk di belakang mulu.
Tapi, semenjak dia nggak ikut pelajaran Gambar Dasar dan tugasnya ditambah kali lipat, dia nggak masuk ke kampus lagi. Ada apa gerangan?

Angelina Jolie
Siapa?! Angelina Jolie??

Morgan SMASH
WHAT?! DIA EX MEMBER KELAS C?! *guling-guling* Tidak!!

Tukimin
Demi kerang ajaib!! SIAPA TUKIMIN?!


Sekian opini dari saya. Mohon maaf bila ada yang tersinggung, namanya juga becanda.
Gue harap mereka bakal jadi orang sukses, yah. Semangat kelas C! Kita masuk bareng-bareng, keluar bareng-bareng! (jangan lama-lama tapinya!)

Kamis, 27 Desember 2012

iseng2 posting sebagian cerita buat ngisi2 aja, hihi... belom punnya judul lagi, haha


Canda tawa anak-anak di sekitar terdengar riang, namun terdengar menggema dan melambat di telingaku, gerakan mereka, seolah-olah aku menonton film dengan gerakan slow motion. Tapi mendadak inderaku kembali normal begitu aku mendengar dering bel.

“Baik, anak-anak. Ingat ya, kerjakan PRnya di rumah kalian...” Seorang perempuan berjilbab putih tersenyum pada kami sambil merapikan buku-bukunya, kemudian diakhiri dengan salam.

Perlahan semua anak-anak mulai keluar dari kelas, mereka menyebar ke segala arah hingga menyisakan kesunyian di ruangan yang kini hanya aku seorang diri.

“Kamu nggak pulang, Alena?”

Aku mendongak, Ani, perempuan bertubuh kurus dengan kulit cokelat, rambut kemerahan karena sinar matahari, serta matanya yang agak sayu itu kini berdiri di hadapanku sambil memegangi tangan ranselnya.

“Nanti.”

“Mau main? Yang lain mau main taplak gunung.”

Aku mengangguk, lalu berjalan sambil menunduk seperti biasa.

Ketika kami berjalan ke lapangan, beberapa anak perempuan sudah berkumpul dan memulai permainannya.

“Kita ikut dong!” Ani menarik tanganku “Nih, Alena juga mau ikutan.”

Fani adalah salah satu teman sekelasku, dia termasuk anak yang berpengaruh di kelas karena semua anak perempuan berteman dan dekat dengannya terkecuali aku, dia bagaikan ketua di kelompok perempuan. Rambut hitam eboninya menjuntai panjang, kulitnya kuning langsat dan wajahnya cantik, dia salah satu anak kaya yang bersekolah di sekolahan ini, mungkin dia punya aura yang hebat untuk menarik anak-anak agar berteman dengannya.

Permainan berlangsung seperti biasa, tapi itu terjadi sebelum aku bertingkah aneh lagi—menurut mereka.

“Jangan lompat ke angka 4!” Teriakku, Fani yang hendak melompatpun berhenti mendadak “Jangan!”

“Kenapa?”

“Nanti kamu menginjak perempuan yang tertembak di situ!”

Sontak semua perempuan berteriak ketakutan dan berlindung di belakangku, kecuali Fani, dia memarahiku karena meenganggap aku mencari sensasi saja. Akhirnya ia mengusirku untuk tidak mengikuti permainan ini. Sempat terjadi kegaduhan sampai akhirnya guru kami datang untuk memeriksa apa yang terjadi.

“Bu! Dia nakut-nakutin kita lagi!” Si ketua mengadu.

Guru itu berusaha menenangkan mereka, kemudian mendekatiku hendak bicara sesuatu, tetapi aku memotongnya terlebih dulu.

“Maaf bu, lebih baik aku pulang,” Kataku, dengan bahasa baku yang biasa kuucapkan, aku membalik badan, baru dua langkah kulalui, tiba-tiba aku berhenti dan berkata “Fani...” Kataku sebelum pergi “Di langkah ke lima belas dari sekolah, bisa kamu menggeser tubuhmu 5 langkah panjang? Aku takut kamu mati.”

Sontak saja Fani berteriak, gurupun menasehatiku utuk menjaga kata-kata, mungkin ia mengira aku menyumpahinya agar Fani cepat mati, tapi... Aku punya firasat buruk tentang itu.

Akupun pulang sendirian ke rumah, dan keesokan harinya Fani tidak masuk, dia masuk rumah sakit karena kecelakaan, aku tidak tahu pasti penyebabnya apa, tapi ia masih beruntung karena tidak mati seperti yang kukira.

Semenjak peristiwa itu, semua anak-anakpun memanggilku dukun. Mungkin kalian akan tertawa, tapi aku membenci julukan itu. Aku bukan dukun, aku hanya memberitahukan sesuatu yang tidak baik. Aku sendiri tidak tahu darimana munculnya perasaan itu

*

Keesokan harinya aku memperhatikan anak laki-laki yang sedang berkumpul di dekat pohon mangga ketika pulang sekolah, satu diantara mereka menangkap katak kecil yang diambil entah dari mana.

“Eh, dukun! Sini!” Mereka memanggilku, aku menurut saja lalu menghampiri mereka “Kamu tau gak ini apaan? Hiiii...”

Mereka menjejalkan katak itu padaku, tapi aku tidak bereaksi apa-apa, wajahku datar dan tubuhku tak bergeming sedikitpun.

“Itu cuma katak.”

“kamu takut, kan sama katak ini, nih! Hiiiii...”

“Hentikan, aku bukan orang bodoh...”

Akhirnya mereka menghentikan itu sambil berdecak kecil lalu kembali bermain dengan katak. Beberapa diantara mereka ada yang menyiksa katak itu dengan cara menekan perutnya, lalu menarik-narik kakiknya, dan menusuk-nusuk bagian tubuh lainnya dengan ranting kayu runcing

“Kalian tau? Melihat darah katak yang keluar mengingatkanku pada salah satu kenalanku.”

Mereka berhenti sejenak karena perhatiannya teralihkan oleh ceritaku “ceritain dong, kenapa emang??”

“Dia seorang lelaki pribumi, tubuhnya penuh luka tusuk, lidahnya dipotong, matanya lepas karena dicongkel orang, kuku-kukunya lepas karena ditarik. Kalian tahu apa motif orang itu mati?”

“Motif itu apa? Motif batik? Bulet-bulet?”

“Semacam itu. Dan motif dia mati adalah ‘iseng’ seperti kalian.”

“iseng??”

“Orang mati menjadi hantu,  ia mendekatiku dan berkata ‘mereka yang menyiksaku akan mati’ Ya, akhirnya hantu itu melakukan hal yang sama. Hantu itu mencari tersangkanya, dan ketika dia menemukannya, dia mengikat si tersangka, lalu ia menarik kuku-kuku tersangka itu sampai berdarah, menyiram si tersangka dengan air keras dan air panas, membakarnya hidup-hidup, kemudian ia menguliti si tersangka, tidak hanya itu, ia memotong tiap bagian tubuh si tersangka dengan perlahan, namun pasti... Ia menyeringai melihat simbahan darah segar yang menetes, dan juga melihat gumpalan daging yang sudah ia potong, tak lupa dia mencongkel kedua mata tersangka dan ditekan dengan tangannya hingga hancur... Lalu...”

“Waaaaaaaaaaaaaa!!” Mereka berteriak  dan melarikan diri “mamahhhhh!! Papahhhhhhhhh!! Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Aku tersenyum dan bergumam “bodoh.”

*


Berpotong-potong gambar memenuhi penglihatanku, bagai melihat foto-foto raksasa dalam ruangan gelap. Foto-foto yang tak pernah terekam di memori ini, foto seorang perempuan berambut panjang yang tidak kukenali.

Mendadak, tempat di mana aku berpijak menjadi lembek bagai tanah basah, akupun terserap olehnya. Aku berteriak sekencang mungkin agar ada seseorang yang menolongku, tapi nihil. Alhasil aku terhisap dan tiba-tiba saja berada di kamar mandi rumahku.

Aku sedang berkaca sambil menggosok gigi, kupikir semuanya kembali normal, tapi mendadak semuanya berubah menjadi hitam-putih seperti efek kamera, dan ketika aku menatap kaca, dari kejauhan sana di belakangku, ada sesuatu yang melayang. Lalu aku menoleh, menyadari sesuatu yang melayang itu semakin dekat dan semakin cepat, akupun memejamkan mata.

Ketika aku membuka kelopak mataku, tepat di depanku ada wajah perempuan berlumuran darah sambil tersenyum, aku berteriak karenanya, terlebih lagi ketika melihat bola mata sebelah kanannya yang lebih menonjol seolah ingin keluar dari tempatnya. Siapa perempuan itu?

Ia tidak bicara dan menggerakan kepalanya ke arah kiri seolah memintaku menoleh, aku melihat sebuah tulisan bernama ‘Nia’ di tembok, seperti benda tajam yang digoreskan ke tembok membentuk huruf-huruf.

“Aaaahhh!!”

Berubah. Perempuan itu menghilang, dan kini aku berada di kamarku sendiri, lengkap dengan piyama dan tempat tidur. Aku bermipi?

Mendadak suasana kamar terasa mencekam dan dingin, perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Kamarku terasa lebih luas, lebih lembab, dan lebih wangi.

Tidak, tidak benar. Aku tahu itu... Aku memang bermimpi, lalu kalau aku bermimpi, sekarang siapa perempuan di hadapanku? Kenapa bola mata bagian kanannya seperti mau keluar? Lalu kenapa ia menyeringai padaku?

“Nia...” Katanya, yang menurutku ia berbisik atau memang suaranya yang seperti itu?

*

Sabtu, 13 Oktober 2012

bioskop

Akhir-akhir ini nggak buka blog, pas temen gua sms ngomongin blog, baru ngeh... "gue udah lama nggak buka blog."

Akhirnya nulis apa aja deh, ga berbobot juga :p *gajelas*

GUE MAU NONTON PERAHU KERTAS 2!!

Gue adalah salah satu penggemar karya Dee, meskipun nggak fanatik buangett...

Dan kalau soal nonton menonton sebenarnya gue bukan tipikal orang yang langsung "wah! uda ada, ayo cepet nonton!!"

Karena gue males kalau pertama-tama nonton pas baru muncul, pasti rame, dan gue nggak suka kalo rame-rame begitu. Bukan berarti gue nonton terus ngelakuin hal mesum gara-gara sepi (ew...)

Kalau nonton itu butuh konsenTERASI (jangan di capslock terasinya), dan kalau masih awal-awal pasti banyak orang, berisik, komen sana komen sini, teriak-teriak ga jelas, ketawa ngakak, belom lagi sinar hp, abg ga jelas yang ngikik-ngikik, yang kritik-kritik, yang sok-sokan, yang sewot, bwahhhhh!!

Gue pernah ada kejadian soalnya, waktu gue nonton di salah satu bioskop di mall dekat sekolahan gue.
Gue lupa nonton apa, jadi di depan gue itu abg ga jelas...(jelas sih, cuma guenya aja yang kesel, jadinya gue sebut ga jelas)
Sederet penuh mereka. dan pas film berlangsung...
1. satu di antara mereka naikin kakinya ke atas bangku depan, helooo... bukannya udah dibilangin ga boleh begitu, ya. Berasa di rumah?
2. Mereka malah ngobrol-ngobrol dan ngengosip ga jelas, ini kafe, tempat nongkrong, atau bioskop, ya? Kalian bayar mahal-mahal cuma buat ngobrol di sini? mending uangnya buat beli komik
3. ada yang main HP, dan sinarnya benar-benar ganggu gue. Okelah kalau sebentar, tapi ini lamaaaaaaa banget, pusing kena cahayanya!
4. ada yang cekakak cekikik ga jelas, berasa nonton film horror abal-abal
5. ada yang komentar-komentar dengan kata-kata ga sepantasnya "weh, bego tuh!" "awas an*ing!! t*i lo! *sensor* *sensor* *sensor*" 
6. di ujung sana ada bayi nangis. Gubrak, siapa suruh bawa anak ke dalam? apalagi kalo filmnya thriller+action+horror

Gue juga pernah marah-marah di bioskop gara-gara kesabaran gue abis, dan emosi gue nyembur...
1. Gara-gara mereka berisik, bibir gue udah monyong "shaaat shuuut shaaat shuuut!" akhirnya gue teriak sama yang di depan gue (kebetulan yang berisik di depan) "bisa diem ga, mbak? tau diri, kek! Keluar aja sana kalo mau berisik!" serius, gue ngomong begitu kencang sampe akhirnya dia langsung diam, dan pas film selesai lalu lampu dinyalain, dia baru keluar setelah gue turun.
2. Sinar HP, seperti yang udah gue bilangin. Pertama gue ngomong baik-baik "Mas, tolong HPnya dimatiin ya, atau nggak gak usah pake cahaya deh." Sampe akhirnya dengan nada yang gue tekan "MAS, TOLONG HPNYA DIMATIIN!" Tuh, kan! Gue baik! meskipun kesel masih pake kata "tolong"! lol

Sisanya udah, sabar-sabar aja lol

Dan sekarang, gue mau curhat (emang tadi bukan curhat?) kalo gue belom nonton perahu kertas 2, padahal gue salah satu penggemar karya Dee *bilang 2x*

Selasa, 17 Juli 2012

sepotong cerita dari novel

ini sepotong cerita dari novel gue yang belom selesai, behahaha... 


      Siang ini aku dan Risa berencana untuk pergi ke mall, sebenarnya hanya untuk mengusir rasa bosan, kami menonton film Mission Impossible di bioskop.

      Begitu sampai dan sudah membeli tiket, aku dan Risa memutuskan untuk pergi ke toko buku agar tidak bosan menunggu. Tapi, kami keasyikan membaca sehingga telat beberapa menit. Kami setengah berlari menuju bioskop, begitu melihat studio 3 sudah di buka, kami bergegas masuk dan lampu sudah dimatikan. 

       Di dalam begitu ramai penonton, kami duduk di barisan keempat dari atas dan agak pojok. Banyak sepasang kekasih yang menonton bersama, aku tidak iri, aku hanya bilang saja kalau yang berpasangan lebih banyak daripada, yah bermacam-macam. 

       “Sini, Sa.” Aku duduk di kursi ketiga dari pojok. 

       Ketika bagian Tom Cruise sedang menerima pesan rahasia di telepon umum, datanglah sepasang kekasih yang sepertinya duduk di sebelahku. Kehadiran mereka menggangguku yang sedang serius menonton—Sebenarnya aku kesal karena setelah itu si perempuan selalu berisik, ditambah ketika ia membuka ponsel, sinar ponsel itu sangat mengganggu! Sementara si lelaki serius menonton. 

       Dan ketika film selesai, lampu mulai dinyalakan. Aku melirik perempuan di sebelahku dengan mata tajam dan sinis. Jujur aku tidak bisa menatapnya dengan pandangan biasa. Sepertinya ia menyadari itu, maka ia segera bicara dengan kekasihnya untuk segera pergi. 

       “Karissa?” 

       Aku menoleh, melihat Marvin yang berada di situ, ternyata sepasang kekasih tadi adalah Marvin dan... perempuan menyebalkan itu? Oh yang benar saja!? Marvin?! 

       Aku tak acuh, lalu berdiri dan menarik Risa untuk pergi. 

       Samar-samar aku mendengar perempuan tadi bicara “dia siapa kamu?” 

       Karena belum selesai memilih buku di toko buku, aku dan Risa pergi ke situ lagi. Aku mencari-cari komik shounen yang sering aku beli setiap bulannya. Tak juga aku temukan. 

       “Nyari komik Fairy Tail?” 

       Aku mendongak, melihat Marvin yang berdiri di sampingku buatku kembali menunduk dan tak menjawabnya. 

       “Komiknya belom terbit, Sa. Tadi udah tanya, soalnya.” 

       Kuhentikan pencarian, lalu hendak pergi. 

       Marvin tampak cuek setelah melihatku pergi. Aku menoleh menatap punggungnya, punggung itu terlihat begitu dingin dan jauh di mataku. Entah apa yang membuat pandangan ini begitu berbeda dengan yang dulu. Mungkin keadaannya tak lagi sama seperti masa lalu. 

       Mungkin, karena ia sudah punya genggaman yang lain. 

       Makanya ia bersikap cuek. 


       Aku dan Risa sedang makan siang, kami duduk di tempat yang outdoor. Ternyata di luar gerimis, tapi tak apalah daripada tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya aku menatap gerimis dengan mata nanar. Gerimis itu cukup untuk memuntahkan kenangan dari dalam laci memori sehingga aku mengingat kenangan bersamanya di mall ini. Teringat ketika kami kencan pertama, kami janjian di depan mall. Ia tak menjemputku dari rumah karena dulu ia tak punya motor, akhirnya ia datang dengan metromini berkulit basah, juga tercium butir air yang terus menempel pada dirinya. Rambutnya basah kuyup karenanya, padahal ia bisa berteduh lebih dulu dan tak memaksakan diri untuk menerjang serangkaian air ini. Tapi apa yang ia bilang padaku? 

       “aku cuma gak mau ngundurin janji dan bikin kamu nunggu aku lebih lama, aku udah nepatin janji, kan?” 

       Kemudian aku berkata sambil menoyor kepalanya “Dari pada kamu basah begini? Ntar malah masuk angin. Aku gak marah kok kalo kamu telat!” 

       Dan dia berkata “Hujan gak bakal nyakitin aku, aku juga yakin, kamu sama kaya hujan itu, kamu gak bakal marahin aku. Hehehe...” 

       Saat itu, aku menoyor kepalanya lagi. 

       Marvin adalah orang yang jujur, ia tidak pandai gombal, ia juga tidak pandai merangkai kata-kata, ia tidak suka memakai kalimat orang lain dan lebih suka merangkainya sendiri meskipun jauh dari sempurna. 

       Ya ampun, kenapa aku benar-benar teringat tiap perkataan dan sifatnya?! 

       “HEI!” Risa membuyar lamunanku “Keinget Marvin, yaaaaa?” 

“Gak.” Jawabku bohong. 

       Gerimis masih memeluk permukaan bumi, angin sepoi-sepoi masih menyapu sekitarnya, matahari masih malu dan bersembunyi di balik kapas kelabu itu, kemilau jingga juga bersembunyi berdampingan dengan matahari. 

       Mungkin kini aku merasakan apa yang telah dikatakan Risa terdahulu. Menyesal. 

       Risa pernah berkata menyesal telah melepas Rizal dulu, meskipun sekarang mereka sudah kembali. Sekarang aku tahu perasaan Risa dulu. 

       Sesekali aku bermimpi, melihat senyumnya lagi, senyum untukku, senyum yang dapat kumiliki dari bibirnya. Ditambah lagi, ketika akulah alasannya. 

       Aku menatap langit kelabu lagi, dan kini menyesap kopi. Ditambah memori di masa lalu yang tak sengaja mampir.
***

Hei Senja

Hei senja, apa kabar?
Kenapa sekarang kamu jarang datang? 
Aku rindukan kemilau jingga yang meledakkan keindahan yang tak abadi itu.
Karena tak abadi, makanya berharga.

Sekarang awan kelabu sedang berkumpul menjadi satu. 
Mungkin senja capek berdiri di sini, 
makanya awan itu menggantikanmu. 

Hei, senja. 
Apakah ketika nanti kamu datang, 
aku boleh menyimpan sepotong keindahanmu, 
lalu kuhadiahkan pada dia?

Sabtu, 02 Juni 2012

move on!

"Nevermind I'll find someone like you" _alt_kaomoji
WHUT!!!

_alt_newplziconGENJRENGG!
Gue akan lebih suka jika kalimatnya diganti "Nevermind I'll find someone better than youuuu...!!" _alt_newplzicon

dan akhirnya berbulan-bulan gue berada di masa galau, sekarang gue udah sembuh!

Yayyyyy! _alt_newplzicon

Gue udah biasa aja sama dia (untungnya jarang ketemu dan hampir gak pernah ketemu lagi karena dia udah lulus) Gue seneng banget.

Lalu tiba-tiba aja ada yang nanya "Lo benci sama dia?"

Nggak. Awalnya emang ada perasaan kesal, tapi lama-lama sih biasa aja karena gue yakin ini salah satu proses pendewasaan juga melatih hati gue. Pasti gue lebih kuat selangkah daripada sebelumnya, karena gue belajar.
Gue udah nggak sepolos yang dulu, sekarang gue lebih selektif memilih orang.

_alt_YUNOyou know what? gue sekarang mulai berpikir dengan cowok cool dan cowok "cool" sekarang.
Banyak cowok yang bersikap sok "Cool" _alt_TROLOLO

Selektif memilih lelaki, meskipun seharusnya perempuan seusia gue pada umumnya bersenang-senang buat pacaran (asal ada yang nembak itu tajir, ganteng, okelah, gaul)_alt_NO gue gak mau.
Karena menurut gue, ya. Perempuan yang kebanyakan mantan itu "murahan" apa lagi yang udah dipegang-pegang

lho? kok jadi agak ngaco ya sama judulnya??

ya udahlah, intinya sekarang gue BEBAS GALAU!_alt_HAPPYFOREVERALONE

jangan katakan lo gak bisa ngelupain si dia, dan lo harus percaya sama diri lo sendiri, juga ada kemauan buat MOVE ON!!

*troll dance*  _alt_TROLLDANCE

Jumat, 18 Mei 2012

coretan ga jelas gara-gara di PHP-in

sekali-kali nulis ga baku banget lah.

Lo tau gimana rasanya dikhianatin?
Nyesek. Emang.

dan tergantung kekuatan lo aja. Lo bisa mati, kalo kekuatan lo ga pantes disebut ke"kuat"an dan lebih pantas disebut ke"lemot"an.

Gila, gue gak habis pikir, kenapa dia harus ngangkat gue tingg-tinggi terus ngelempar gue ke jurang gak berdasar-oh entahlah.

Apa dia merasa dirinya laku banget? Lantas ngelakuin hal itu?
Lucu.

Gue juga bisa, tapi ternyata gak pernah bisa.
Gak bisa apa? Gak bisa ngelakuinnya. Bukan lantaran karena gak ada yang suka atau gak laku.
Entahlah, mungkin karakternya begini. Sisi plegmatis gue keluar, pikir-pikir.

Gak mau cari masalah baru.
Buang-buang waktu.

Gue aja heran sama dia, ngasih gue harapan sekian lamanya. ngabisin beberapa waktu dari hidupnya yang singkat cuma buat nyakitin hati orang seperti gue. Kurang kerjaan? atau kesepian? mungkin keduanya.
Kaya ga ada kerjaan lain yang lebih bermutu aja?
Gak penting.
Nambah dosa.
Gak mutu.
Intinya?
Ngasih harapan palsu ke orang cuma ngerugiin lo semua. Lo sendiri, dan juga si dia.
Gila.

Dia, kesalahan besar gue.
Bodoh, ngapain gue bertingkah layaknya orang bego dulu?
ha...ha...ha...

Gue benci dia? nggak.

Gue tertawa.
Gue tertawa, karena sikap gue yang terlalu..., ah entahlah. Siapa peduli.